Thursday, March 26, 2015

Tujuan Hidup

HAKIKAT DAN TUJUAN HIDUP MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI

Abstraksi Konsep pemikiran Al-Ghazali tentang manusia sangat komprehensip. Ia mengungkap manusia tidak hanya dari sudut pandang  jasmaninya saja, tapi juga aspek rohaninya. Hakikat manusia menurut Al-Ghazali ialah jiwanya (an-nafs). Al-nafs yaitu substansi yang tersendiri, yang mempunyai daya mengetahui, bergerak dengan kemauannya dan penyempurna bagi bagian-bagian lainnya. Manusia menurut Al-Ghazali hidup di dunia ini mempunyai tujuan yang jelas yaitu tercapainya kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat, sedangkan tujuan akhirnya ialah tercapainya kebahagiaan akhirat yang puncaknya yaitu dekat dengan Allah dengan cara bertemu dan melihat Allah yang di dalamnya terdapat kenikmatan-kenikmatan yang menyeluruh yang tidak pernah diketahui oleh manusia ketika di dunia. Karena hakikat manusia itu jiwanya, maka menurut Al-Ghazali jiwalah yang akan mendapatkan kesenangan dan penderitaan nanti di akhirat kelak. Kata-kata kunci : Manusia, Jiwa, Tujuan hidup, Surga. A. Pendahuluan Al-Ghazali merupakan salah seorang ulama dan pemikir besar muslim yang karya-karyanya banyak menyinggung masalah manusia. Berdasarkan kajian penulis, konsep Al-Ghazali tentang manusia dianggap sebagai konsep yang islami an bertolak dari Al-Qur'an. Ia melihat manusia tidak hanya sosok tubuhnya atau jasmaninya saja, tetapi juga rohaninya, tujuan hidupnya, sifat-sifatnya dan juga hubungan dengan Khaliknya. Al-Ghazali merupakan orang yang sangat ulet dalam menggeluti dan menyelidiki segala pengetahuan segala keinginannya untuk mencapai keyakinan dan mencari hakikat kebenaran segala sesuatu yang tidak pernah merasa puas. Pengalaman pengembaraan intelektual dan spiritualnya berpindah-pindah dari ilmu

kalam ke filsafat, kemudian ke dunia bathiniah dan akhirnya membawanya ke pada tasawuf. Suasana pemikiran Al-Ghazali seperti diungkap di atas, menunjukkan bahwa Al-Ghazali merupakan seorang pemikir besar dan tekun, yang karya ilmiahnya sangat banyak dan sekaligus sebagai kritikus kenamaan yang sangat populer di kalangan dunia ilmu pengetahuan. Hal itu terbukti bahwa karya-karya ilmiahnya sangat banyak dikenal orang, dan pemikiran-pemikirannya sangat besar pengaruhnya terhadap pemikiran intelektual dunia Islam. Oleh karena itu, pantaslah jika Al-Ghazali dipandang sebagai salah seorang tokoh agama Islam, bahkan dia dijuluki Hujjatul Islam. Dalam tulisan ini akan dijelaskan pemikiran Al-Ghazali tentang manusia, yang meliputi: (1) hakikat manusia, (2) tujuan hidup manusia, (3) Upaya untuk mencapai kebahagiaan akhirat.. Dari kajian ini diharapkan kita dapat mengetahui apa dan siapa manusia itu dan apa yang diharapkan diperoleh dari hidupnya, dan apa yang harus dilakukan untuk bisa mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. B. Hakikat Manusia Al-Ghazali dalam Mushthafa (1970, J.2:100), menjelaskan bahwa manusia itu terdiri atas dua unsur yang berbeda, yakni tubuh (al-jism) dan jiwa (al-nafs). Al-jism yaitu unsur yang berwatak gelap, kasar dan termasuk di bawah alam bumi ini yang tidak berbeda dengan benda-benda lainnya. Al-jism merupakan bagian yang tidak sempurna pada manusia tanpa unsur-unsur lainnya. Ia terdiri atas unsur materi yang bersifat rusak. Al-nafs yaitu substansi yang tersendiri, yang mempunyai daya mengetahui, bergerak dengan kemauannya dan penyempurna bagi bagian-bagian lainnya. Lebih lanjut, al-Ghazali dalam Mushthafa (1970,J.2:101) menjelaskan bahwa al-nafs yang dimaksud di sini bukan merupakan kekuatan yang mendorong terhadap kebutuhan makanan, bukan kekuatan yang menggerakkan terhadap syahwat dan emosi bukan kekuatan yang bertempat di dalam hati yang bisa melahirkan hidup, bukan pula kekuatan yang mendorong perasaan yang bergerak dari hati ke seluruh anggota badan, karena kekuatan semacam itu disebut roh hayawan.Sifat merasa, bergerak, syahwat dan emosi itu merupakan pasukan dari roh hayawan. Sedangkan kekuatan yang mendorong terhadap kebutuhan makanan dan kekuatan yang

bertempat di dalam hati itu merupakan roh thabi'i. Kekuatan-kekuatan yang digambarkan di atas, semuanya itu merupakan pelayan bagi jasad, dan jasad merupakan pelayan bagi roh hayawan, karena ia menerima kekuatan-kekuatan daripadanya dan bekerja sesuai dengan penggeraknya. Al-nafs yang dimaksud al-Ghazali di sini merupakan substansi yang sempurna, yang tersendiri, yang mempunyai kemampuan daya ingat, daya pikir, daya simpan, daya mempertimbangkan dan dapat menerima berbagai ilmu. Substansi tersebut merupakan pimpinan roh hayawan dan roh thabi'i dan rajanya segala kekuatan. Semuanya melayani al-nafs dan melaksanakan perintahnya. Dan itulah esensi manusia. Al-nafs sebagai esensi manusia tersebut, para ahli menyebutnya dengan istilah yang berbeda. Para hukama menyebutnya al-nafs al-nathiqah, ahli tasawuf menyebutnya hati (al-qalb), sedangkan al-Qur'an menyebutnya al-nafs al-muthmainnah dan al-ruh al-amr, dan semua itu maksudnya sama. Sedangkan al-Ghazali menyebutnya al-nafs al-nathiqah atau al-ruh al-muthlaq. Dari hasil kajian di atas, terlihat jelas bahwa al-Ghazali membedakan antara al-ruh al-muthlak, al-ruh al-hayawan dan al-ruh al-thabi'i. Al-ruh al-muthlak mempunyai persamaan dengan al-ruh al-amr dan al-nafs al-muthmainnah yang disebutnya sebagai al-nafs al-nathiqah. Al-ruh al-hayawan menurut al-Ghazali dalam Mushthafa (190,J.2:102) merupakan jism yang halus (jism lathif) yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi ke bagian-bagian tubuh yang lain, yang diibaratkan seperti lampu yang menyala yang bersinar ke seluruh rumah. Hidup ini diibaratkan seperti cahaya dan roh itu seperti lampunya. Roh hayawan itu merupakan pendorong terhadap kebutuhan makanan yang dapat menggerakkan syahwat dan emosi, dan merupakan penggerak dari hati ke seluruh anggota badan. Roh hayawan itu tidak dapat memberikan petunjuk kepada pengetahuan, dan ia akan mati dengan matinya badan setelah berpisah dengan roh mutlak. Al-Ghazali dalam Mushthafa (1970.J.2:182) menjelaskan bahwa roh hayawan itu sejenis uap yang sangat halus, berpusat di rongga jantung dan menyebar ke seluruh tubuh melalui syaraf dan pembuluh-pembuluh nadi dan menggerakkan anggota-anggota badan untuk melakukan sesuatu. Lebih lanjut al-Ghazali dalam Mushthafa (1970,J.2:35-36) menjelaskan bahwa roh manusia itu terdiri atas empat tingkatan. Pertama, roh inderawi, yang

No comments:

Post a Comment