HAKIKAT DAN
TUJUAN HIDUP MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI
Abstraksi Konsep pemikiran Al-Ghazali tentang manusia sangat komprehensip. Ia
mengungkap manusia tidak hanya dari sudut pandang jasmaninya saja,
tapi juga aspek rohaninya. Hakikat manusia menurut Al-Ghazali ialah jiwanya (an-nafs). Al-nafs yaitu substansi yang tersendiri, yang mempunyai daya mengetahui,
bergerak dengan kemauannya dan
penyempurna bagi bagian-bagian lainnya. Manusia menurut Al-Ghazali hidup di
dunia ini mempunyai tujuan yang jelas yaitu
tercapainya kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat, sedangkan tujuan
akhirnya ialah tercapainya kebahagiaan akhirat yang puncaknya yaitu dekat
dengan Allah dengan cara bertemu dan melihat Allah yang di dalamnya terdapat
kenikmatan-kenikmatan yang menyeluruh yang tidak pernah diketahui oleh manusia
ketika di dunia. Karena hakikat manusia itu jiwanya, maka menurut Al-Ghazali jiwalah
yang akan mendapatkan kesenangan dan penderitaan nanti di akhirat kelak.
Kata-kata kunci : Manusia, Jiwa, Tujuan hidup, Surga. A. Pendahuluan Al-Ghazali merupakan salah seorang ulama dan
pemikir besar muslim yang karya-karyanya
banyak menyinggung masalah manusia. Berdasarkan kajian penulis, konsep
Al-Ghazali tentang manusia dianggap sebagai konsep yang islami an bertolak dari
Al-Qur'an. Ia melihat manusia tidak hanya sosok tubuhnya atau jasmaninya saja,
tetapi juga rohaninya, tujuan hidupnya, sifat-sifatnya dan juga hubungan dengan
Khaliknya. Al-Ghazali merupakan orang yang sangat ulet dalam menggeluti dan menyelidiki segala pengetahuan segala
keinginannya untuk mencapai keyakinan dan mencari hakikat kebenaran segala sesuatu yang tidak pernah merasa puas.
Pengalaman pengembaraan intelektual dan spiritualnya berpindah-pindah dari ilmu
kalam ke
filsafat, kemudian ke dunia bathiniah dan akhirnya membawanya ke pada tasawuf. Suasana
pemikiran Al-Ghazali seperti diungkap di atas, menunjukkan bahwa Al-Ghazali
merupakan seorang pemikir besar dan tekun, yang karya ilmiahnya sangat banyak
dan sekaligus sebagai kritikus kenamaan yang sangat populer di kalangan dunia
ilmu pengetahuan. Hal itu terbukti bahwa karya-karya ilmiahnya sangat banyak
dikenal orang, dan pemikiran-pemikirannya sangat besar pengaruhnya terhadap
pemikiran intelektual dunia Islam. Oleh karena itu, pantaslah jika Al-Ghazali
dipandang sebagai salah seorang tokoh agama Islam, bahkan dia dijuluki Hujjatul
Islam. Dalam tulisan ini akan dijelaskan pemikiran Al-Ghazali tentang manusia,
yang meliputi: (1) hakikat manusia, (2) tujuan hidup manusia, (3) Upaya untuk
mencapai kebahagiaan akhirat.. Dari kajian ini diharapkan kita dapat mengetahui
apa dan siapa manusia itu dan apa yang diharapkan diperoleh dari hidupnya, dan
apa yang harus dilakukan untuk bisa mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. B. Hakikat
Manusia Al-Ghazali dalam Mushthafa (1970, J.2:100), menjelaskan bahwa manusia
itu terdiri atas dua unsur yang berbeda, yakni tubuh (al-jism) dan jiwa
(al-nafs). Al-jism yaitu unsur yang berwatak gelap, kasar dan termasuk di bawah
alam bumi ini yang tidak berbeda dengan benda-benda lainnya. Al-jism merupakan
bagian yang tidak sempurna pada manusia tanpa unsur-unsur lainnya. Ia terdiri
atas unsur materi yang bersifat rusak. Al-nafs yaitu substansi yang tersendiri,
yang mempunyai daya mengetahui, bergerak dengan kemauannya dan penyempurna bagi
bagian-bagian lainnya. Lebih lanjut, al-Ghazali dalam Mushthafa (1970,J.2:101)
menjelaskan bahwa al-nafs yang dimaksud di sini bukan merupakan kekuatan yang
mendorong terhadap kebutuhan makanan, bukan kekuatan yang menggerakkan terhadap
syahwat dan emosi bukan kekuatan yang bertempat di dalam hati yang bisa
melahirkan hidup, bukan pula kekuatan yang mendorong perasaan yang bergerak
dari hati ke seluruh anggota badan, karena kekuatan semacam itu disebut roh
hayawan.Sifat merasa, bergerak, syahwat dan emosi itu merupakan pasukan dari
roh hayawan. Sedangkan kekuatan yang mendorong terhadap kebutuhan makanan dan
kekuatan yang
bertempat di
dalam hati itu merupakan roh thabi'i. Kekuatan-kekuatan yang digambarkan di
atas, semuanya itu merupakan pelayan bagi jasad, dan jasad merupakan pelayan
bagi roh hayawan, karena ia menerima kekuatan-kekuatan daripadanya dan bekerja
sesuai dengan penggeraknya. Al-nafs yang dimaksud al-Ghazali di sini merupakan
substansi yang sempurna, yang tersendiri, yang mempunyai kemampuan daya ingat,
daya pikir, daya simpan, daya mempertimbangkan dan dapat menerima berbagai
ilmu. Substansi tersebut merupakan pimpinan roh hayawan dan roh thabi'i dan
rajanya segala kekuatan. Semuanya melayani al-nafs dan melaksanakan perintahnya. Dan itulah esensi manusia.
Al-nafs sebagai esensi manusia tersebut, para ahli menyebutnya dengan istilah
yang berbeda. Para hukama menyebutnya al-nafs al-nathiqah, ahli tasawuf
menyebutnya hati (al-qalb), sedangkan al-Qur'an menyebutnya al-nafs
al-muthmainnah dan al-ruh al-amr, dan semua itu maksudnya sama. Sedangkan
al-Ghazali menyebutnya al-nafs al-nathiqah atau al-ruh al-muthlaq. Dari hasil
kajian di atas, terlihat jelas bahwa al-Ghazali membedakan antara al-ruh
al-muthlak, al-ruh al-hayawan dan al-ruh al-thabi'i. Al-ruh al-muthlak
mempunyai persamaan dengan al-ruh al-amr dan al-nafs al-muthmainnah yang
disebutnya sebagai al-nafs al-nathiqah. Al-ruh al-hayawan menurut al-Ghazali
dalam Mushthafa (190,J.2:102) merupakan jism yang halus (jism lathif) yang
mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi ke bagian-bagian tubuh yang lain, yang
diibaratkan seperti lampu yang menyala yang bersinar ke seluruh rumah.
Hidup ini diibaratkan seperti cahaya dan roh itu seperti lampunya. Roh hayawan
itu merupakan pendorong terhadap kebutuhan makanan yang dapat menggerakkan
syahwat dan emosi, dan merupakan penggerak dari hati ke seluruh anggota badan.
Roh hayawan itu tidak dapat memberikan petunjuk kepada pengetahuan, dan ia akan
mati dengan matinya badan setelah berpisah dengan roh mutlak. Al-Ghazali dalam
Mushthafa (1970.J.2:182) menjelaskan bahwa roh hayawan itu sejenis uap yang
sangat halus, berpusat di rongga jantung dan menyebar ke seluruh tubuh melalui
syaraf dan pembuluh-pembuluh nadi dan menggerakkan anggota-anggota badan untuk
melakukan sesuatu. Lebih lanjut al-Ghazali dalam Mushthafa (1970,J.2:35-36)
menjelaskan bahwa roh manusia itu terdiri atas empat tingkatan. Pertama, roh
inderawi, yang
No comments:
Post a Comment